Latest Post

Navy Deploys Ship to Secure President's Visit in Biak

Written By Redaksi on Wednesday, August 20, 2014 | 2:55 PM

The Indonesian Navy in Biak Numfor District has deployed a military ship in Biak waters to secure the visit of President Susilo Bambang Yudhoyono on August 21, 2014.

"We will implement the security strategy by deploying KRI Tongkol to secure the visit of President Yudhoyono in the region," Commander of Biak Navy Base Lieutenant Colonel Susanto stated here on Wednesday.

He noted that the Navy will conduct inspection and monitoring to secure the waters during Yudhoyono's visit.

A total of 800 joint security personnel from the Police and Indonesian Military will be deployed during Yudhoyono's visit to Biak.

With regard to the recent security situation in Biak, the commander reported that the condition is conducive and under control.

The Biak Administration continues to maintain cleanliness in the area by deploying cleaning officers and civil servants who conduct community service.

The local administration has also requested the public to hoist the Indonesian flag and place colorful banners in their houses.

Solid Rocket Propulsion Technology from Asphalt Buton Indonesia

Written By Redaksi on Tuesday, January 18, 2011 | 3:09 AM

Menurut sumber dari UGM yaitu bapak Hananto yang ditemui penulis pada event Indodefence 2008, saat ini Dislitbang TNI AL bekerjasama degan PT DATAREKA dan Fakultas Teknik Kimia UGM mengembangkan bahan pendorong roket dengan salah satu unsurnya adalah aspal dari pulau Buton.
Aspal dari pulau Buton ini tidaklah bisa disamakan dengan aspal yang biasa kita lihat sehari hari. Aspal pulau buton mempunyai sifat penetrasi nol dan tidak bisa digunakan langsung sebagai pengganti aspal biasa

Aspal buton bila dicampurkan ke aspal biasa akan menghasilkan aspal berkualitas tinggi. Aspal jenis ini hanya ditemukan dan ditambang di Amerika, Trinidad dan di pulau buton saja. Khusus untuk pulau buton cadangannya mencapai puluhan juta ton. Setelah mengembangkan semenjak 2007 , saat ini Penelitian sudah dalam tahap penelitian untuk mengganti propelan roket exocet dan strella.

Pada tahun 2008 , pihak UGM sudah menerima sampel dari propelan Exocet dan strella , walaupun dalam beberapa parameter pengujian propelan berbahan aspal buton lebih bagus, tapi saat ini belum bisa diperoleh campuran yang paling pas sehingga bisa menggantikan propelan lama dari exocet/strella.

Salah satu masalah yang mengemuka adalah tekanan yang masih terlalu besar, selongsong roket strella hanya mampu menahan tekanan sampai 300 bar sedangkan roket UGM masih bertekanan diatas itu sehingga ada kemungkinan selongsong roket akan pecah. Semoga kedepan Pihak peneliti mampu menjinakan keganasan propelannya dan propelan exocet dan strella mampu digantikan.

Pesawat Tanpa Awak Kecepatan Tinggi Sistem Pemantauan Pulau Nusantara

Written By Redaksi on Monday, December 6, 2010 | 2:22 PM

Memiliki belasan ribu pulau yang tersebar luas dan kerap kali tertutup awan, tidak mudah bagi Indonesia memantau kondisi sumber daya alamnya secara menyeluruh sepanjang tahun. Penginderaan jauh sistem radar dapat mengatasi kendala itu. Namun, sistem tersebut telah berkembang jauh.

Sistem observasi jarak jauh ini telah dikembangkan lebih lanjut dan diterapkan dengan menggunakan pesawat tanpa awak dan satelit kecil.

Observasi permukaan bumi dalam segala cuaca ini memerlukan keandalan sistem, baik pada sensor maupun wahana yang menjadi tumpangannya. Untuk sistem pemantauan yang berfungsi sebagai ”mata”, penggunaan Synthetic Aperture Radar (SAR) di Indonesia terbukti dapat berfungsi baik untuk memetakan wilayah yang tertutup awan.

Sensor ini bukan hanya digunakan di wilayah Nusantara yang sebagian besar wilayahnya selalu tertutup awan. Dan, karena bekerja sama dengan gelombang radio, sensor ini dapat dioperasikan pada malam hari sehingga 24 jam dapat digunakan untuk mengamati permukaan bumi dan informasi lapisan bumi di dalamnya.

Apabila sensor optik seperti kamera hanya mengetahui informasi permukaan bumi saja, sensor SAR dapat digunakan untuk mendapatkan informasi-informasi di kedalaman sampai beberapa meter dari permukaan bumi, tergantung dari kondisi permukaan dan gelombang mikro yang digunakan oleh sensor ini.

Sistem SAR ini dikembangkan lebih lanjut oleh Josaphat Tetuko Sri Sumantyo dari Center for Environmental Remote Sensing, Universitas Chiba, Jepang. Sensor baru ini disebut Circularly Polarized Synthetic Aperture Radar (CP-SAR).

Beberapa kelebihan dapat dicapai pada CP-SAR dibandingkan sensor radar konvensional. ”Dengan sistem SAR yang lama digunakan beberapa antena. Untuk menyimpan citra diperlukan dua memori dan unit penyuplai daya berukuran besar. Sedangkan sistem baru hanya menggunakan daya lebih kecil sehingga sistem tersebut lebih kecil dan ringan,” kata Josaphat.

Ringannya alat tersebut dicapai CP-SAR yang hanya menggunakan satu antena. Dengan pengembangan sistem sensor yang baru tersebut, aplikasinya untuk kegiatan search and rescue (SAR) dapat lebih cepat untuk menampilkan citra hasil penginderaan jauh.

Dengan CP-SAR dapat dilakukan sistem pantulan gelombang melingkar. Datanya dapat langsung diklasifikasi oleh stasiun penerima citra. Pada sistem SAR lama, analisis citra satelit memakan waktu beberapa hari.

Sistem ini dikembangkan Josaphat sejak 2005. Peneliti yang pernah bergabung di Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT) ini juga mengembangkan aplikasi SAR pada satelit dan pesawat tanpa awak. Uji coba sensor pada simulasi pesawat tanpa awak telah dilakukan di Jepang pada 2008.

Josaphat berharap, pengujian sensor CP-SAR dengan wahana satelit dapat dilakukan pada 2014 sejalan dengan program Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional (Lapan) yang menargetkan peluncuran roket pengorbit satelit empat tahun mendatang.

Untuk aplikasinya pada wahana satelit dan pesawat tanpa awak, Josaphat bekerja sama dengan peneliti dari Lapan. Uji coba SAR yang baru ini dengan menggunakan pesawat tanpa awak akan dilakukan Desember mendatang di stasiun peluncuran roket di Pamengpeuk, Garut, Jawa Barat, dan Bandara Margahayu, Bandung.

Sementara itu, uji coba di Jepang akan dilakukan di Shikabe Hokkaido dan Pulau Iwojima.

Pesawat tanpa awak

Pemantauan permukaan bumi dari udara untuk berbagai keperluan telah lama dilakukan dengan menggunakan pesawat terbang dan satelit. Selain itu, dikembangkan pula pesawat terbang tanpa awak (PTTA).

Wahana tak berpilot ini dari beberapa aspek memiliki kelebihan dibandingkan dua sarana tersebut. Untuk kegiatan survei udara, PTTA biaya produksinya lebih rendah. Wahana nir-awak ini mampu menjelajah medan berbahaya yang tidak mungkin dilakukan pesawat biasa, seperti terbang rendah untuk pemantauan wilayah kebakaran hutan dan wilayah perbatasan.

Saat ini telah ada empat prototipe PTTA, termasuk model unmanned aerial vehicle (UAV-530). Tiga prototipe lainnya dibuat oleh ITB, Robo Aero Indonesia, dan UAVindo.

Pembuatan UAV-530 sendiri merupakan program riset khusus bidang teknologi pertahanan di bawah koordinasi Kementerian Riset dan Teknologi yang melibatkan instansi pemerintah dan swasta nasional, di antaranya Lapan, BPPT, Balitbang TNI AU, dan Balitbang Kementerian Pertahanan. Untuk komponennya, rancang bangun, dan rekayasanya didukung PT Pindad, PT LEN Industri, PT Dirgantara Indonesia, dan ITB. Program ini dimulai Maret 2007 dan berakhir tahun ini.

Pesawat UAV-530 memiliki beberapa kelebihan, yaitu struktur sayap dapat dilipat sehingga mampu menjelajah wilayah yang sulit ditempuh pesawat kecil. ”Untuk pemantauan yang memerlukan terbang lambat, sayap itu direntangkan dengan sistem kendali jarak jauh,” kata Hari Purwanto, Staf Ahli Menristek Bidang Hankam.

Pesawat tersebut dikendalikan melalui sistem komunikasi yang ditempatkan di darat atau remotely piloted vehicle (RPV). Pada UAV-520 ada dua sistem komunikasi, yaitu sistem kendali dan kamera yang secara real time menampilkan citra di layar monitor di darat.

Sebelum mencapai tahap UAV-530, hingga Desember 2007 telah disiapkan tiga prototipe berkecepatan rendah dan berkecepatan tinggi. Prototipe berkecepatan rendah hingga 180 km per jam. Wahana tanpa awak ini mampu melayang di atas ketinggian sekitar 1 km dan radius operasional 15 km.

Prototipe kedua memiliki kecepatan 380 km per jam dengan kemampuan jelajah di atas ketinggian 1 km. Dua prototipe PTTA ini menggunakan minyak tanah. Namun, UAV-530 menggunakan avtur seperti pesawat terbang umumnya.

Mahasiswa Akan Berkompetisi Bangun Muatan Roket

Written By Redaksi on Wednesday, June 23, 2010 | 1:37 AM

Sebanyak 40 tim dari 38 perguruan tinggi di Indonesia akan mengikuti Kompetisi Roket Indonesia (Korindo) 2010. Korindo akan berlangsung pada 26-28 Juni 2010 di Pantai Padansimo, Srandakan, Bantul, Yogyakarta.

Hal tersebut disampaikan oleh tim juri Korindo, Endra Pituwarno saat konferensi pers mengenai kegiatan ini di Gerai Informasi Gedung C Kementerian Pendidikan Nasional, Jakarta , Selasa (22/6). Selain Endra, pembicara dalam konferensi pers tersebut yaitu Deputi Bidang Teknologi Dirgantara Lapan, Soewarto Hardhienata, dan Direktur Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi Kementerian Pendidikan Nasional (Kemendiknas), Suryo Hapsoro Tri Utomo.

Menurut Suryo, Korindo bertujuan untuk menggairahkan kembali kecintaan masyarakat terhadap teknologi kedirgantaraan. Ia menjelaskan, kegiatan ini terlaksana atas kerja sama Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi Kemendiknas, Lapan, Universitas Gadjah Mada, Pemerintah Kabupaten Bantul, dan Akademi Angkatan Udara.

Sementara itu, Soewarto menjelaskan bahwakompetisi ini memiliki misi untuk membangun atau menumbuhkan kecintaan generasi muda terhadap ilmu pengetahuan kedirgantaraan. “Selain itu, kegiatan ini juga terkait dengan Hari Kebangkitan Teknologi Nasional (Hakteknas),” ia berkata.

Kompetisi ini akan menggali kemampuan mahasiswa dalam membuat payload (muatan) roket. ”Muatan tersebut nantinya akan menjadi cikal bakal nano satelit buatan Indonesia,” kata Endro.

“Terdapat dampak positif setelah dua kali pelaksanaan kompetisi ini pada 2008 dan 2009,” kata Soewarto. Ia menjelaskan, dampak tersebut yaitu semakin dikenalnya ilmu pengetahuan dirgantara di masyarakat dan semakin tingginya antusiasme perguruan tinggi terhadap kompetisi ini.

Endro memaparkan, peserta Korindo tahun ini semakin banyak. “Tahun ini pendaftarnya hingga 53 tim, padahal kuota peserta lomba hanya 40 tim. Maka itu, dipilih 40 tim terbaik melalui tahap seleksi proposal dan laporan. Tim-tim tersebut akan mengikuti Korindo pada 26-28 Juni,” ujar Endro.

Antusiasme terhadap kompetisi ini tidak hanya datang dari dalam negeri, melainkan juga dari luar negeri. Soewarto mengatakan, ada negara lain yang tertarik untuk mengikuti lomba ini. Selain itu, Korindo 2010 ini akan disaksikan oleh observer (pengamat) dari Asia-Pacific Regional Space Agency Forum ( APRSAF).

Korindo 2010 bertema Homing Meteo Payload, yakni kompetisi untuk menghasilkan rancang bangun payload (muatan roket). Payload harus mampu kembali atau menuju sasaran yang telah ditentukan, setelah terpisah dari roket peluncur.
“Kompetisi ini cukup sulit karena komponen payload harus tahan terhadap guncangan yang dihasilkan roket,” kata Soewarto. Meskipun sulit, ia percaya mahasiswa mampu berkompetisi dengan baik. “Kemampuan anak muda Indonesia tidak kalah dari di luar negeri,” ia menegaskan.

Successful Design Review and Engine Test Bring Boeing X-51A Closer to Flight

Written By Redaksi on Thursday, May 27, 2010 | 9:36 AM

The Boeing [NYSE: BA] X-51A WaveRider Scramjet Engine Demonstrator recently completed a Critical Design Review (CDR) and fired its engine for the first time -- two major program milestones necessary for first flight.

The X-51A program, managed by the Air Force Research Laboratory Propulsion Directorate, is a consortium of the U.S. Air Force, DARPA, NASA, Boeing and Pratt & Whitney Rocketdyne to demonstrate hypersonic flight capability.

Held last week in West Palm Beach, Fla., the CDR allowed government and industry officials to review and validate the vehicle's design, assembly, integration and flight test plan. The review is a critical part of the program where specifications are verified to indicate that the vehicle's design has matured to its requirements. Procurements, manufacturing and assembly processes also are established.

During the successful firing of the Pratt & Whitney X-1 demonstrator engine, test engineers used a Full Authority Digital Engine Controller to simulate flight conditions at Mach 5 air speed. Test of the hydrocarbon-fueled scramjet engine also demonstrated a closed-loop thermal management system that cools engine hardware and regulates fuel for the engine's combustor. The X-1 is the first of two ground test engines proposed for the program.

The successful completion of the CDR and X-1 ground demonstration indicates that the X-51A program is on track to proceed with its first flight tests in 2009.

"The CDR and engine test are key validation points for the X-51A program," said George Muellner, president of Boeing Advanced Systems. "The X-51A is a remarkable system that will answer many questions necessary for the development of future hypersonic propulsion vehicles that can be used for delivering payloads to space as well as for atmospheric flight applications."

"These successes are critical for the development of the X-51A," said Charlie Brink, U.S. Air Force Research Laboratory X-51A program manager. "It also marks the first time that a scramjet engine was tested in its simulated 'full flight' propulsion configuration -- the Boeing-designed full vehicle fore-body inlet and nozzle."

The X-51A ground test program is being conducted at NASA's Langley Research Center in Hampton, Va., and includes four planned test flights.

Future tests will verify engine performance and operability across the X-51A flight envelope and further characterize the closed-loop thermal management system.

Next, the X-51A team will develop a pre-first flight risk assessment that includes finalizing schedules and addressing remaining procurements, manufacturing, assembly and flight test planning.

When completed and flown, the X-51A will demonstrate scaleable scramjet engine propulsion technology, high temperature materials, airframe/engine integration and other key technologies within the hypersonic Mach 4.5 to 6.5 range. The X-51A will set the foundation for several hypersonic applications including access to space.

Work for the Boeing X-51A WaveRider is being performed by Boeing Advanced Network and Space Systems in Huntington Beach, Calif.

Mozambik Minat Kerjasama Dengan Lembaga Antariksa LAPAN

Written By Redaksi on Monday, April 12, 2010 | 12:37 AM

Dunia internasional memandang serius terhadap keberadaan Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional (Lapan), buktinya berbagai tawaran kerja sama di bidang kedirgantaraan baik dari negara maju dan berkembang berdatangan tahun ini.

Mozambik, melalui duta besarnya Carlos Agostinho Do Rosario, Rabu (7/4) mengunjungi kantor pusat Lapan di Jakarta, juga untuk menjajaki kerja sama dalam bidang kedirgantaraan.

Dalam kunjungannya, Carlos Agostinho menyampaikan bahwa Mozambik ingin mempelajari organisasi lembaga antariksa dan kemandirian Indonesia dalam bidang kedirgantaraan akan dicontoh oleh negara di benua Afrika itu.

More

Italy’s Answer to the Race for Space

Written By Redaksi on Friday, March 5, 2010 | 6:46 AM

Hypersonic space planes may someday fly into space from airport runways, but an Italian aerospace firm first wants to test whether such futuristic vehicles could still pull off high-speed maneuvers during the fiery re-entry into Earth’s atmosphere.

The Italian Center for Aerospace Research (CIRA) in Capua, Italy has prepped a new unmanned prototype space plane called Pollux for a possible flight in March. Pollux would perform several test maneuvers while reaching a top re-entry speed of Mach 1.2.

“We want to fly while re-entering, and we want to reduce the logical gap between aeronautics and space,” said Gennaro Russo, CIRA’s Space Programs lead and USV (Unmanned Space Vehicles) program manager.

A less-advanced twin to Pollux, the engineless prototype space vehicle named Castor, successfully flew at transonic speeds between altitudes of about 10 and 6.2 miles, and reached a top speed of Mach 1.08, or just above the speed of sound.

Pollux is designed to reach its drop height of about 15 miles courtesy of a stratospheric balloon. Upon release, the space vehicle is expected to carry out pre-programmed aeronautic maneuvers where it pulls its nose up, conducts an angle of attack maneuver, a two-bank turn maneuver, and then finish with another nose-up maneuver before opening its parachute at a height of just over 3 miles.

All those twists and turns would allow the 500 experimental sensors aboard Pollux to record the acceleration, aerodynamic pressures, and strain throughout. That information will go a long way toward helping researchers figure out what maneuvers a hypersonic vehicle could pull off as it comes in for landing from space, researchers said.

“Being able to handle the flight and not simply the drop along a re-entry trajectory, you will be able to select the landing spaceport regardless of the weather conditions during the re-entry,” Russo told SPACE.com.

Like its twin Castor, Pollux is a 30-foot-long flying test vehicle with a wingspan of 13 feet, and a weight of 2,910 pounds. But Pollux has more advanced control systems that allow the unmanned space vehicle to autonomously make its own last-minute tweaks for flight patterns.

Pollux also has a single-stage parachute, rather than the three-stage parachute used by Castor in 2007. Castor’s three-stage parachute did not slow it down enough to avoid some damage upon landing two years ago, but Pollux’s handlers seem confident that they can better control the newer prototype and slow it down enough to require just the single-stage parachute.

Two experiments are also slated to ride piggy-back aboard Pollux.

The first is a systems-on-a-chip designed by the company Strago Ricerche, which will help gauge accelerations for the flight. The second is a physics experiment by second grade schools of Italy’s Apulia region that will survey atmospheric opacity due to aerosols.

The flights of Castor and Pollux may also help inform other ongoing efforts to develop space planes. The British company Reaction Engines Limited received initial funding last year from the European Space Agency and British government to begin developing its Skylon space plane concept.

The U.S. Air Force has its own secretive space plane set for launch later this year.

Russo and CIRA have already begun planning beyond their twin space vehicle prototypes. A hypersonic version that could reach Mach 7 or 8 is on the drawing boards due to collaboration with the University of Queensland and Australia’s Department of Defense.

Rusia Ingin Bisa Luncurkan Satelit di Biak

Written By Redaksi on Thursday, February 25, 2010 | 2:41 AM

Rusia yang ingin menempatkan satelit di atas Biak, Provinsi Papua, meminta dukungan Wakil Presiden Boediono agar rencananya itu terlaksana segera, sebagai wujud persahabatan dengan Indonesia khususnya di bidang teknologi.

"Rusia minta kepada Wapres untuk ikut mendukung dan mempercepat penempatan satelit di Biak itu, dan Wapres menyatakan ingin membantu serta mendorong penyelesaian berbagai hambatan," kata Juru Bicara Wapres Yopie Hidayat kepada pers di Istana Wapres Jakarta, Kamis (25/2).

Usai mendampingi Wapres bertu dengan Duta Besar Rusia untuk Indonesia Alexander Ivanov, Yopoe menyebutkan, Rusia masih sangat berminat membangun dan mengembangkan teknologi satelit di Indonesia, khususnya Biak.

Pengembangan satelit Rusia di Indonesia, katanya, selama ini menghadapi kendala khususnya perlindungan hak cipta teknologi.

"Rusia menginginkan teknologi satelit yang nanti dikembangkan di Biak bisa dilindungi hak ciptanya," katanya.

Teknologi peluncuran satelit Rusia yang nanti akan ditempatkan di atas Biak, katanya, bukan dengan teknologi peluncuran satelit dari tanah menggunakan roket, tapi satelit akan diangkut menggunakan angkutan pesawat terbang (air launch system/ ALS).

"Satelit diletakkan di punggung pesawat dan setelah mengudara dengan ketinggian tertentu maka satelitnya akan diluncurkan," kata Yopi.

Dikatakan pula, antara Indonesia dan Rusia selama ini telah menjalin kerjasama teknologi yang baik dan erat dan banyak pegawai Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional (Lapan) yang menuntut ilmu di Rusia.

Dubes Rusia juga mengundang Boediono menghadiri Forum Ekonomi Internasional pada Juni 2010 di St. Petersburg, Rusia.

"Dubes Alexander mengundang Wapres untuk bisa menghadiri forum tersebut di Rusia," katanya.

Space Tourism Indonesia

Morotai Spaceport

Nias Spaceport

Pandansimo

Belang Spaceport

 
Support : Creating Website | Johny Template | Mas Template
Copyright © 2011. Biak Spaceport - All Rights Reserved
Template Created by Creating Website Published by Mas Template
Proudly powered by Blogger