Kesaksian Salem al-Jumaili membuka kembali lembaran lama ketegangan antara Irak dan Libya yang jarang dibahas ke publik. Ketegangan ini muncul pada masa perang Irak–Iran, ketika dinamika aliansi regional bergerak di balik layar dan memicu konfrontasi tidak langsung antarnegara Arab.
Menurut al-Jumaili, Irak semula dikejutkan oleh serangan rudal yang menghantam Baghdad. Pada awalnya, tidak ada kepastian mengenai asal-usul rudal tersebut, selain fakta bahwa dampaknya menunjukkan teknologi persenjataan tingkat tinggi yang tidak lazim digunakan Iran pada fase awal perang.
Penyelidikan kemudian mengarah pada rudal Scud buatan Uni Soviet. Melalui jalur komunikasi dengan pihak Rusia, Baghdad memperoleh penjelasan bahwa rudal-rudal tersebut sejatinya dikirim Moskow ke Libya sebagai bagian dari kerja sama militer.
Fakta yang mengejutkan Irak adalah bahwa Libya kemudian meneruskan rudal Scud tersebut ke Iran. Dengan demikian, serangan ke Baghdad dipandang bukan sekadar tindakan Iran, melainkan hasil dukungan langsung dari negara Arab lain yang dipimpin Muammar Gaddafi.
Reaksi Presiden Saddam Hussein digambarkan sangat keras. Al-Jumaili menuturkan bahwa Saddam memandang tindakan Libya sebagai pengkhianatan strategis dan ancaman langsung terhadap keamanan nasional Irak.
Dalam situasi itu, Saddam disebut memerintahkan agar Libya diberi “pelajaran” yang tegas. Namun, alih-alih konfrontasi langsung antarnegara, Irak memilih jalur tidak langsung melalui dukungan terhadap oposisi Libya.
Langkah konkret yang diambil adalah membangun kamp militer bagi oposisi Libya di wilayah Chad. Lokasi tersebut dipilih karena berada di perbatasan Libya, memungkinkan tekanan militer tanpa membuka front perang terbuka.
Irak kemudian membangun jembatan udara dari Baghdad ke Chad. Melalui jalur ini, peralatan militer, logistik, dan dukungan teknis dikirimkan secara intensif untuk memperkuat kelompok oposisi yang menentang Gaddafi.
Operasi ini tidak hanya bersifat militer, tetapi juga politik. Tariq Aziz, salah satu tokoh kunci pemerintahan Irak, disebut bertanggung jawab mengelola aspek politik dan diplomatik dari langkah tersebut.
Sementara itu, administrasi dan pelaksanaan teknis operasi berada di tangan perwira intelijen Irak. Struktur ini menunjukkan bahwa Baghdad memandang operasi melawan Libya sebagai kebijakan negara yang terencana, bukan reaksi sesaat.
Dengan dukungan Irak, kelompok oposisi Libya mulai melancarkan serangan terhadap pasukan pemerintah. Pertempuran sengit pun terjadi di wilayah selatan Libya yang berbatasan dengan Chad.
Dalam kesaksian al-Jumaili, pasukan Muammar Gaddafi mengalami kemunduran signifikan. Pada masa itu, pasukan Libya di lapangan dipimpin oleh Khalifa Haftar, yang kemudian hari menjadi tokoh sentral dalam konflik Libya modern.
Kekalahan tersebut menimbulkan tekanan besar bagi Tripoli. Posisi Gaddafi dinilai terancam bukan hanya secara militer, tetapi juga secara politik di kawasan.
Menghadapi situasi itu, Gaddafi memilih jalur diplomasi. Ia mengutus kepala intelijennya, Ahmed Qaddaf al-Dam, untuk melakukan perundingan langsung dengan pemerintah Irak.
Utusan tersebut tiba di Baghdad dengan misi jelas, yakni menghentikan dukungan Irak terhadap oposisi Libya. Namun, Baghdad tidak memberikan konsesi tanpa syarat.
Dalam perundingan itu, Irak menuntut Libya menghentikan seluruh bentuk dukungan militer kepada Iran. Bagi Saddam Hussein, ini adalah inti persoalan yang memicu konflik sejak awal.
Kesepakatan akhirnya tercapai setelah negosiasi intensif. Irak setuju menghentikan dukungan terhadap oposisi Libya, sementara Libya berkomitmen untuk menghentikan bantuan persenjataan dan dukungan strategis kepada Iran.
Kesaksian Salem al-Jumaili ini memperlihatkan bagaimana konflik regional di Timur Tengah dan Afrika Utara saling terhubung. Perang Irak–Iran ternyata memicu dampak domino hingga ke hubungan Irak–Libya.
Cerita ini juga menunjukkan bahwa perseteruan antarnegara Arab pada masa itu tidak selalu tampil di permukaan. Banyak di antaranya berlangsung melalui perang proksi dan tekanan tidak langsung.
Hingga kini, kesaksian tersebut menjadi pengingat bahwa dinamika politik Timur Tengah sarat dengan perhitungan kekuasaan yang kompleks. Apa yang tampak sebagai konflik bilateral sering kali menyimpan lapisan konfrontasi regional yang lebih dalam.


0 Comments