Transisi di wilayah timur Suriah pasca mundurnya SDF dari beberapa kota dan kanton menandai babak baru dalam sejarah pengelolaan daerah tersebut. Pemerintah Damaskus menghadapi tantangan kompleks untuk menstabilkan wilayah yang sebelumnya berada di bawah kendali milisi semi-otonom dan dewan lokal yang setara dengan AANES. Kondisi ini membutuhkan strategi sinkronisasi yang matang agar proses transisi tidak menimbulkan kekosongan kekuasaan atau ketegangan baru di masyarakat.
Salah satu aspek penting adalah penyelarasan antara struktur AANES lama dengan sistem pemerintahan Suriah. Meskipun beberapa dewan militer dan tokoh lokal telah menyatakan dukungan mereka kepada Damaskus, integrasi administratif dan kelembagaan tetap memerlukan koordinasi agar layanan publik seperti listrik, air, dan keamanan dapat berjalan tanpa gangguan. Kesalahan dalam penyelarasan ini berpotensi menimbulkan konflik baru atau memicu ketidakpercayaan masyarakat.
Pengalaman Damaskus sebelumnya dalam menggabungkan pemerintah penyelamat di Idlib (SG) dan pemerintah sementara di Azaz (SIG) menjadi acuan penting. Kedua wilayah tersebut menunjukkan bahwa menghormati struktur lokal yang sudah ada, sambil memasukkan mereka ke dalam kerangka hukum dan administratif nasional, dapat mempercepat proses stabilisasi. Pendekatan yang sama kini diterapkan di timur Suriah untuk memastikan bahwa baik pejabat sipil maupun militer yang sebelumnya berafiliasi dengan SDF bisa berfungsi dalam sistem nasional.
Dalam praktiknya, beberapa pejabat eksekutif dan dewan militer SDF telah secara sukarela mendeklarasikan aliansi mereka dengan pemerintah Suriah. Contohnya adalah Waddah Al-Mushrif, komandan Dewan Militer Al-Busayrah, yang menyatakan dukungannya kepada Damaskus. Langkah ini memudahkan transisi karena sebagian besar aparat lokal sudah siap bekerja sama, meski tetap harus ada mekanisme formal untuk integrasi ke Kementerian Pertahanan dan struktur sipil.
Namun, tantangan terbesar adalah kondisi infrastruktur yang rusak. Banyak jembatan dan fasilitas publik hancur akibat strategi mundur SDF, termasuk ledakan jembatan penting di Raqqa dan Tabqa. Kondisi ini memaksa pemerintah untuk bekerja sama dengan komunitas lokal, termasuk suku dan milisi yang kini memegang kendali sementara atas wilayah, guna memastikan transportasi, distribusi bahan pokok, dan layanan dasar tetap berjalan.
Kendala lain adalah mengembalikan kepercayaan masyarakat terhadap lembaga negara. Setelah bertahun-tahun berada di bawah kontrol semi-otonom, warga membutuhkan jaminan keamanan, kepastian hukum, dan transparansi dalam pengelolaan sumber daya alam seperti minyak, gas, dan gandum. Pemerintah Suriah berupaya menegaskan bahwa kontrol sumber daya tersebut tidak hanya menambah pendapatan nasional, tetapi juga akan digunakan untuk memperbaiki infrastruktur, layanan kesehatan, dan pendidikan masyarakat setempat.
Langkah-langkah awal transisi telah terlihat di Deir ez-Zor dan Raqqa, di mana gubernur lokal dan pejabat kementerian mengimbau warga untuk tetap di rumah dan mematuhi perintah militer demi keselamatan publik. Selain itu, pengelolaan fasilitas strategis seperti Sungai Euphrates, bendungan, dan pembangkit listrik dikembalikan kepada teknisi lokal yang sebelumnya bekerja di bawah sistem AANES, namun kini berada di bawah pengawasan pemerintah pusat.
Di sisi lain, pemerintah Suriah juga memberikan perhatian khusus pada penguatan legitimasi institusi lokal. Dewan eksekutif daerah, seperti yang dipimpin oleh Mohammad Al-Dakhil di Deir ez-Zor, diintegrasikan ke dalam kerangka administrasi nasional. Hal ini tidak hanya memastikan kesinambungan layanan publik, tetapi juga menjaga stabilitas sosial dengan melibatkan tokoh masyarakat yang sudah dikenal warga.
Penerapan model ini bertujuan untuk menciptakan win-win solution: pemerintah Damaskus memperoleh kendali administratif dan militer, sementara tokoh lokal dan mantan pejabat SDF tetap memiliki peran signifikan dalam menjalankan urusan sipil. Pendekatan ini mirip dengan model integrasi di Idlib dan Azaz, di mana keberhasilan transisi sangat bergantung pada sinkronisasi antara otoritas pusat dan struktur lokal.
Selain itu, koordinasi dengan komunitas suku menjadi aspek krusial. Suku Arab di Deir ez-Zor, Raqqa, dan Hasakah telah memainkan peran penting selama transisi dengan mengamankan wilayah pedesaan dan mengawal proses integrasi. Dukungan mereka membantu pemerintah mengurangi potensi kekosongan keamanan dan memastikan aliran logistik tetap lancar, termasuk distribusi minyak, gas, dan bahan pokok.
Secara ekonomi, pemulihan wilayah timur akan berdampak besar terhadap pendapatan nasional. Sumber daya minyak dan gas, bersama dengan sektor pertanian seperti kapas dan gandum, kembali berada di bawah kendali pemerintah. Hal ini memungkinkan Bank Sentral Suriah dan Kementerian Keuangan untuk mengelola aliran dana dengan lebih transparan, memulihkan kepercayaan publik, dan memperkuat kedaulatan finansial negara.
Dampak sosial juga signifikan. Dengan integrasi pejabat lokal dan militer ke dalam sistem nasional, warga merasakan adanya kontinuitas layanan publik dan kejelasan otoritas. Proses ini juga menekan kemungkinan konflik internal, karena pihak-pihak yang sebelumnya berafiliasi dengan SDF diberikan peran resmi dalam administrasi sipil dan keamanan.
Namun, pemerintah tetap berhati-hati terhadap risiko residual. Meskipun mayoritas dewan militer dan pejabat lokal telah menyatakan dukungan, masih ada sebagian wilayah yang menunggu kepastian integrasi. Pemerintah memerlukan mekanisme pengawasan dan evaluasi, termasuk pelatihan aparat baru, audit fasilitas publik, dan penegakan hukum yang konsisten, agar transisi berjalan lancar dan berkelanjutan.
Selain itu, aspek keamanan tidak bisa diabaikan. Ketiadaan jembatan dan kerusakan infrastruktur transportasi memaksa pemerintah untuk mengandalkan koordinasi dengan suku dan milisi lokal guna mengatur pergerakan pasukan dan logistik. Strategi ini sementara efektif, tetapi perlu rencana jangka panjang untuk pembangunan kembali jembatan dan jalan utama.
Proses ini juga menekankan pentingnya partisipasi masyarakat. Pemerintah mendorong warga untuk terlibat dalam pengambilan keputusan lokal, termasuk di dewan eksekutif dan unit administratif, agar kebijakan yang diambil sesuai dengan kebutuhan nyata masyarakat. Partisipasi ini sekaligus memperkuat legitimasi pemerintah di mata warga.
Pengalaman dari Idlib dan Azaz menunjukkan bahwa kesalahan dalam integrasi dapat menimbulkan konflik baru. Oleh karena itu, pemerintah Suriah menerapkan pendekatan bertahap, memprioritaskan stabilitas dan koordinasi lintas struktur, sambil tetap mempertahankan otoritas nasional.
Kegiatan awal di Deir ez-Zor, Raqqa, dan Tabqa menunjukkan hasil positif. Beberapa fasilitas publik, termasuk rumah sakit, sekolah, dan pusat layanan dasar, kembali beroperasi dengan staf lokal yang diintegrasikan ke sistem pemerintah. Hal ini memberikan contoh konkret bahwa sinkronisasi struktural antara pusat dan lokal berhasil dijalankan.
Selain itu, pemerintah Suriah memanfaatkan pengalaman internasional dalam manajemen transisi, termasuk pelatihan aparat keamanan dan administrasi, untuk memastikan proses ini tidak mengulang kekosongan kekuasaan seperti yang terjadi pasca konflik sebelumnya.
Dukungan suku dan tokoh lokal juga menjadi faktor utama keberhasilan transisi. Keterlibatan mereka dalam menjaga ketertiban, mengawasi distribusi sumber daya, dan memastikan keberlanjutan layanan publik membantu mencegah kekacauan yang bisa dimanfaatkan oleh pihak ketiga.
Transisi ini diharapkan menjadi model bagi integrasi wilayah lain yang sebelumnya berada di bawah kendali otonomi semi-militer. Keberhasilan di timur Suriah akan membuktikan bahwa pendekatan sinkronisasi antara struktur lama dan pemerintah pusat mampu memulihkan stabilitas, meningkatkan pelayanan publik, dan memperkuat kedaulatan negara.
Akhirnya, kombinasi pengalaman, partisipasi lokal, dukungan komunitas, dan koordinasi lintas struktur menjadikan transisi ini sebagai peluang unik untuk memperkuat negara Suriah secara keseluruhan, sekaligus memberikan kepercayaan pada warga bahwa negara hadir dan mampu mengelola wilayah mereka secara efektif.


0 Comments